#

Oh Ujian Nasional


Saya gak tau harus mengutuk siapa karena tragedi Ujian Nasional 2013 yang saya alami kemarin. Semuanya serba engga enak. Dari mulai soal ada yang engga ada jawabannya, LJUN udah kaya bungkus gorengan.
Tapi gapapa. Sebagai anak SMA semester akhir yang Berbudi luhur, Unggul dan Mandiri. Saya Cuma bisa pasrah sambil cakar-cakarin kaca jendela.

Tiap hari selama pekan Ujian Nasional, pemberitaan Indonesia diisi tentang UN. Emang siapa sih UN? Selebtwit baru? Hih!

UN saya sih engga usah banyak diceritain ya, mau belajar kaya gimana juga saya tetep enggaaa bisa ngerjain soal yang susah. Malah pas pelajaran Ekonomi, Geografi dan Matematika, saya ngegambar di kertas buram yang harusnya dipake ngitung jawaban soal.


Saya jadi inget di suatu waktu setelah UAS sebelum UN, tepatnya saat Ujian Praktek. Kelas saya kebagian praktek debat untuk pelajaran bahasa Indonesia. Dan tema yang saya pilih adalah Ujian Nasional. Saya bahas tentang pro dan kontra Ujian Nasional ((jeng jeng jeng jeng)). Yang isinya kurang lebih begini…



Ujian Nasional, selama ini selalu menghantui jiwa setiap orang yang berhubungan dengan sekolah. Bukna hanya siswa. Tapi juga guru dan orang tua siswa yang ikut memikirkan tentang nasib anaknya. 

Standar nilai kelulusan dalam Ujian Nasional untuk tahun 2012 lalu, tidak mengalami perubahan, yaitu tetap 5,5 untuk lulus Ujian Nasional. Dan bobot pembagi nilainya juga tetap 40:60, yakni 40% dari akumulasi rata-rata nilai ujian sekolah dan 60% dari nilai UN. Permasalahan tersebut masih belum ada kepastiannya dan masih diperdebatkan. Meskipun sekarang telah ada keputusan tentang bobot nilai pembagi 40:60 seperti yang telah disebutkan, sebenarnya setiap sekolah ingin siswanya lulus dengan ditentukan 100% oleh sekolahnya masing-masing.

Sebenarnya, menurut saya, Ujian nasional ini crossing the line alias melanggar aturan dari konsep yang diberikan kepadanya terdahulu.

Dikutip dari sebuah sumber, bahwa Ujian Nasional akhir-akhir ini ada pemaksaan dilakukannya 3 fungsi dalam satu ujian. Ketiga fungsi itu adalah Evaluasi, kelulusan dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Dalam fungsi evaluasi atau fungsi diagnostik, seharusnya hal ini tidak dilakukan pada tahap akhir pendidikan. Kapan perbaikan dilakukan jika itu hanya dilakukan pada akhir pendidikan? hal lain adalah sebagai fungsi pemetaan, data tidak harus diambil dari semua siswa. Proses pemetaan juga tidak harus dilakukan setiap tahun. Setelah ada evaluasi, dilakukan program perbaikan. Kemudian baru dievaluasi lagi. 

Dalam fungsi kelulusan, UN dirasa kurang tepat. Anak-anak yang berada di daerah dan memiliki fasilitas pendidikan terbatas tidak dapat disamakan dengan anak-anak di kota besar yang memiliki fasilitas sekolah sangat baik. Lulusan tidak harus sama semua. Jika semua disamakan, maka yang diambil adalah batasan terendah (yang mana ini akan sangat rendah). Lagipula, bukanlah buruh atau robot yang sama yang ingin didapatkan dari hasil pendidikan Indonesia, tidak semua siswa akan meneruskan ke perguruan tinggi yang jenisnya juga berbeda-beda. Karena itu kelulusan sebaiknya ditentukan oleh sekolah masing-masing. Karena selama ini dipaksa untuk menggunakan UN sebagai fungsi kelulusan, maka sekolah mengajarkan siswanya untuk lulus UN, bukan mengajarkan (dasar) ilmu. Lalu, siswa yang tidak lulus UN divonis tidak boleh meneruskan kemana-mana, padahal kesalahan bukan pada mereka, tetapi pada sistem. Maka sistemlah yang harus dibenahi, bukan siswa yang disalahkan.

Fungsi yang terakhir, yaitu fungsi melanjutkan ke Perguruan Tinggi juga lagi-lagi berbeda. Masing-masing fakultas/jurusan/prodi membutuhkan mahasiswa dengan kebutuhan yang berbeda. Calon mahasiswa kedokteran tentu saja berbeda dengan calon mahasiswa jurusan matematika. Maka sudah jelas fungsi UN tidak dapat digunakan. Proses seleksi yang salah ini akan menyebabkan perguruan tinggi kesulitan dalam mendidik mahasiswanya. Yang nanti disalahkan adalah perguruan tingginya. Untuk penerimaan mahasiswa, perguruan tinggi seharusnya melakukan ujian sendiri, bukan UN. Mengingat bahwa untuk masuk peguruan tinggi pun dibuat sebuah ujian berskala nasional. Siswa yang tidak lulus UN dinyatakan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal siswa tersebut dirasa mampu untuk melanjutkan pendidikannya.

Sebaiknya, sistem pendidikan yang ada sekarang ini perlu ditingkatkan lagi menjadi sistem yang lebih baik. Lantas darimana kita membenahinya? Semuanya harus dibenahi secara pararel. Kita kembalikan UN seperti fungsi utamanya, yaitu sebagai alat ukur evaluasi atau pemetaan saja. Dan tidak digunakannya UN untuk seleksi ke Perguruan Tinggi, sehingga sekolah tidak takut untuk berbuat jujur (memberikan nilai sesungguhnya tanpa katrol), lagipula setiap perguruan tinggi pun melakukan ujian saringan sendiri.

Namun, jika pemerintah terus melakukan terror pada siswa dengan mewajibkan siswa menjadi manusia paling sempurna maka akan ada efek samping yang cukup mengerikan, yaitu :

  1. Para siswa akan berorientasi pada nilai sehingga ilmu tidaklah berarti bagi mereka. Yang mereka pelajari justru bagaimana cara menjawab soal-soal ujian yang diberikan dengan waktu secepat mungkin dan benar. Setelah selesai ujian, maka ilmu yang seharusnya siswa kuasai tidak dipelajari oleh siswa.
  2. Meningkatkan stress di kalangan siswa sekolah menjelang UN dilaksanakan. Rasa takut tidak lulus dan malu karena harus mengulang untuk mendapat kesempatan untuk lulus kembali. Terlebih lagi jika orangtua pelajar kurang mampu. Tidak jarang dijumpai berita mengenai siswa yang tidak lulus UN melakukan upaya bunuh diri.
  3. Tindak kecurangan akan lebih sering dijumpai dari pihak sekolah yang membantu para murid agar bisa lulus dengan membuatkan contekan jawaban serta dari siswa itu sendiri yang mencontek atau menggunakan kunci jawaban agar bisa lulus ujian dan melanjutkan ke perguruan tinggi.
  4. Orang yang jenius di banyak bidang studi namun lemah di satu bidang studi tidak bisa lulus ujian nasional. Dengan begitu hanya manusia sempurna saja dan curang yang dapat melanjutkan jenjang yang lebih tinggi.
  5. Menimbulkan ketidakpercayaan terhadap system pendidikan di Indonesia sehingga akan banyak orang yang putus sekolah dan berusaha mencari uang dengan bekerja atau berwiraswasta. Anak muda akan lebih gemar belajar mencari uang daripada belajar di sekolah karena orang yang lemah di satu mata pelajaran tidak akan pernah bisa lulus ujian nasional. Orang-orang muda akan lebih suka belajar hanya dari program kejar paket daripada sekolah bertahun-tahun setiap hari untuk mendapat ijazah di level yang sama.

UN juga memberi dampak positif. Misalnya, akan lebih meningkatkan dan menumbuhkan semangat belajar para siswa khususnya pada pelajar tingkat SMP, SMA dan sederajat yang menduduki bangku kelas 9 dan 12. Selain itu, siswa juga akan termotivasi untuk berkompetisi untuk mendapatkan prestasi. Hal positif lainnya dari UN, yaitu guru akan lebih kreatif dan bersungguh-sungguh dalam membimbing para siswa dalam proses pembelajaran

UN bukan satu-satunya cara untuk memetakan mutu pendidikan karena hasil belajar siswa hanya salah satu komponen pengukur. Masih ada komponen lain, seperti kualitas guru dan sarana belajar yang harus ditingkatkan.

4 comments:

  1. diantara dinding-dinding sekolah, kita dituntut untuk menjadi serupa. kita dilatih untuk mengerjakan semua ujian standar dan mereka yang menyimpang dan melihat pendidikan dari kaca mata yang berbeda dianggap sampah dari pendidikan umum,

    kapan ya negara kita punya pendidikan yang benar-benar mencerahkan bukan malah mengkondisikan seperti saat ini. :s

    ReplyDelete
  2. Tulisan anda sangat menarik di usia anda yang cukup belia, alur reportase analitik dan logis.. sangat dibutuhkan untuk bisa menstimulir pembangunan bangsa dari tulisan dan argumentasi yang cerdas dengan narasi sederhana...

    Sayang bangsa kita memiliki anggota keluarga yang banyak "tidak tertarik" dalam hal membaca.. pun oleh kebanyakan pemimpin bangsa ini...

    sehingga tulisan-tulisan cerdas banyak terabaikan.. bagai bungkus gorengan..

    baru saja saya kesasar ke blog ini karena tengah mencari info bagi anak saya yang baru saja masuk SMA berbasiskan UN yang dirancang oleh negri ini...

    keep on writing..!!

    salam
    gats - dosen di sebuah PTS jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat berterimakasih Anda sudah sudi membaca tulisan saya yang jauh dari sempurna ini :)

      salam kembali, Bapak Dosen.

      Delete