#

Transisi


Bagaimana rasanya seseorang yang sangat menyukai kota kelahirannya, harus pindah ke sebuah tempat yang belum pernah dia datangi sebelumnya?

Ini terjadi pada saya baru-baru ini.

Jadi, setelah sekian lama.
akhirnya saya meninggalkan Bandung.
Bukan ke tempat yang terlalu jauh, memang. Hanya berjarak sekitar 5 jam dari Bandung.

Dua puluh satu tahun tinggal di tanah parahyangan membuat saya memiliki kecintaan berlebih pada Bandung. Jika ada yang bertanya tempat yang paling ingin saya tinggali sampai mati, Bandung adalah jawabannya.

Lahir, tinggal, sekolah, hingga bekerja di sana semuanya menyenangkan, semua aspek kebahagiaan terpenuhi. Keluarga, teman, tempat favorit, semuanya ada di sana.

Tidak pernah terpikir untuk pindah ke kota lain sebenarnya, di Bandung pun cukup. Ditta muda saat itu berpendapat begitu.

Lalu bagaimana saya bisa tiba-tiba pindah dan meninggalkan Bandung? Begini ceritanya..


Bulan maret 2017 lalu, saya menyelesaikan kontrak kerja di kantor sebelumnya di Bandung. Dan sebulan kemudian kegiatan saya diisi dengan shooting untuk salah satu iklan brand produk perempuan. Ya itu nanti diceritakan di post lain.

Saya belum mau bekerja lagi saat itu, selama 1 bulan pertama masa hiatus, saya benar-benar cuma menikmati hidup. Kumpul dengan keluarga yang jarang saya lakukan karena sibuk bekerja, pergi bertemu teman yang jarang saya temui karena berbeda kota, mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama tidak mampir, juga menonton banyak film yang terlewat, dan tentu saja menyelesaikan buku yang merupakan proyek pribadi saya -ya, kembali diceritakan di post lain tentang ini.

Sebuah tawaran kerja dari seorang teman datang saat saya sedang nganggur, tapi rasanya badan saya belum siap untuk bekerja lagi. Masih ingin leyeh-leyeh. Juga masih belum bisa jauh dari orang tua, cuma tinggal satu, dan nanti siapa yang jaga? Begitu pikiran saya saat itu.

Satu bulan kemudian, saya sudah selesai dengan masa hiatus, "ngapain lagi ya?" tanya saya pada diri sendiri, semua hal sepertinya sudah saya lakukan akhir-akhir ini.

Saya coba tanya apakah pekerjaan yang sebelumnya ditawarkan itu masih kosong, dan akhirnya munculah keputusan untuk bekerja di sana pertengahan Mei 2017. Sempat sedikit ragu, saya belum pernah mampir kota itu sebelumnya, sampai seorang teman yang lain bilang "Gak apa-apa, nanti lo juga biasa kok, proses biar lo makin mateng".

Seminggu sebelum kepindahan, saya baru berani bilang orang tua (lol, maaf) yang untungnya diijinkan untuk pindah.

Saat-saat sebelum saya pindah menjadi momen paling lebay. Saya mulai membereskan pakaian yang akan saya bawa, memilah barang yang sekiranya akan diperlukan di tempat baru sambil berkeliling rumah yang ternyata tidak terlalu banyak berubah sejak 18 tahun lalu. Dan apa saja yang sudah saya lewati di sini. Saya baru menyadari bahwa saya tidak pernah pergi sejauh ini sebelumnya, untuk tinggal lama. Kuliah pun hanya berjarak 90 menit dari rumah, 2 jam kalau macet, mau pulang enggak susah.

Meninggalkan semua hal di sini untuk sementara cukup membuat saya sedikit lebih cengeng dari biasanya.

Mungkin saya hanya sekedar takut untuk memulai semua sendirian di tempat baru, tanpa perlindungan seperti yang saya dapat di rumah ini, di Bandung.

Dan Pakoban (pasar komik bandung) menjadi final jejak saya di Bandung sebelum pindah. Bertemu banyak sekali teman yang biasanya hanya bicara di internet selalu jadi hal yang saya tunggu setiap sebuah event berlangsung. Pakoban benar-benar menjadi penutup yang manis.






Terima kasih semua yang sempat hadir dan bersenang-senang bersama! Kapan-kapan kita bertemu lagi di kota penuh cinta ini ya!

Sore itu, saya pamit pada Bandung.



Gelap.

Bingung.

Sepi.

Begitu yang saya pikirkan begitu tiba di kosan baru saya.

Kamar, kasur, lemari, meja, semua terasa asing. Semoga saya cepat kerasan di sini, harap saya hari itu.

Malam pertama di kamar baru, dengan hanya berselimut sprei, tanpa bantal, melihat sekeliling ruangan kecil yang akan menjadi tempat tinggal saya selama di sini.

"Everything gonna be okay, rite?"

kantor yang baru
Hari pertama di kantor, kembali beradaptasi dengan ekosistem baru di sana, berkenalan dengan orang baru, melakukan pekerjaan baru.

Memulai dari awal memang selalu membuat bingung, haha.

Untungnya, orang di kantor saya menyenangkan :)

Sekarang sudah dua bulan sejak kepindahan di sana. Semuanya berjalan baik-baik saja, tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Kamar yang sebelumnya sepi dan kosong, sekarang terasa penuh, saya beli beberapa barang yang sekiranya akan bikin saya betah di kamar. Lingkungan yang sebelumnya asing sekarang seperti merangkul pelan-pelan.

Sayangnya saya hampir tidak bisa pulang dalam waktu dekat selama di sana. Saya kehilangan Bandung untuk waktu yang cukup lama. Kangen. Seperti ucapan orang sekitar, sesuatu itu akan terasa lebih berharga saat kamu susah untuk menggapainya.

Lucunya saya jadi bisa merasakan mudik lebaran dalam arti sebenarnya (lol, padahal sama aja kayak kalau saya pergi dari Bandung ke Jakarta buat main jaraknya).

Pindah bukan hal yang buruk, saya sebenarnya tidak perlu takut untuk pindah, semua ketakutan yang ada berasal dari diri saya sendiri, bukan karena tempatnya.

Dan, mau dengar cerita tentang bagaimana saya pulang? :)

To boldy go where no man has gone before - Star Trek

-------------------------------------------------------------------------------------

Ditta A. Sarasvati,

21 Juni 2017.


10 comments:

  1. Hai ditta seneng rasanya bisa ngebaca cerita2 org termasuk cerita ditta, semoga baik2 aja yaa ditta dan ditunggu ya cerita perjalanan ditta selanjutnya. :)

    ReplyDelete
  2. Hai ditta seneng rasanya bisa ngebaca cerita2 org termasuk cerita ditta, semoga baik2 aja yaa ditta dan ditunggu ya cerita perjalanan ditta selanjutnya. :)

    ReplyDelete
  3. Whoaa. Semangat di tempat yang baruu! Semoga betah dan ngerasa punya keluarga baru. Hohoho. Salam kenal yaa baru pertama kali ke sini deh. \(W)/

    ReplyDelete
  4. Ya memang kurang lebih saya juga merasakan seperti itu saat saya harus pisah dengan kampung halaman saya dahulu. Dan saya mengakui kalo Bandung itu emang ngangenin. Walaupun saya hanya 5 tahun disana tapi saya ga pernah lupa suasananya yang bersahabat.

    ReplyDelete
  5. Kalau gak lebay dan cengeng bukan ditta namanya :3
    Dan jaga kesehatan ya, soalnya kalau udah sakit pasti lebih kangen lagi sama kampung , ganbare ditta-san ...

    ReplyDelete
  6. Semoga lancar yaa pekerjaannya kak Ditta

    ReplyDelete
  7. Always interesting to read your story :))
    btw goodluck with your new jobs and have funn ^^

    ReplyDelete