#

[Hello Goodbye] Caffeine


Di Instagram, beberapa waktu lalu saya bertanya tentang rencana saya untuk posting beberapa cerita dari buku pertama saya 'Hello Goodbye' di blog ini kepada orang-orang. Saya senang melihat banyak yang cukup antusias dengan ini, terutama karena bukunya sudah habis dan tidak akan diproduksi ulang sampai tahun depan.

Jadi untuk mengobati rasa kekecewaan karena tidak mendapat bukunya, saya akan posting beberapa cerita pendek dari buku itu di sini dan kalian bisa membacanya kapanpun :)

Cerita pertama yang saya persembahkan berjudul 'Caffeine', proses pembuatannya bisa dibilang yang paling cepat dan menyenangkan, salah satu favorit saya. Dan semoga kalian juga menyukainya!

Happy reading!

Regards,
Ditta.

Caffeine 



Seorang barista sedang sibuk membereskan gelas saat seorang perempuan dengan rambut sebahu memasuki coffee shopnya yang bernama Caffeine, jaketnya yang panjang basah, dilepasnya jaket itu perlahan dan menghampiri barista itu di balik mejanya. 

     “Vanilla latte satu, ya” ucapnya pelan hampir tidak terdengar. 

Barista mengangguk, menyiapkan pesanan itu. 

Malam itu sedang hujan, cukup deras, salah satu penyebab coffee shopnya agak sepi hari itu, hanya ada dia, dua orang pelanggan di salah satu pojok, dan perempuan itu, duduk di hadapannya, dengan menggenggam jaket yang basah dan tetesan air dari rambutnya. Barista menawarkan tissue padanya. 

    “Thank you” katanya, tersenyum tipis. 

    “Abis kehujanan dari mana mbak?” tanya barista hati-hati 

    “Ah, ini tadi abis ketemu sama orang, terus tahu-tahu hujan.” 

    “Oh… mau tissue lagi?” tawar barista yang dijawab dengan gelengan kepala 

Sebuah alunan lagu akustik tanpa lirik di dalam coffee shop itu menemani keheningan di antara mereka. 


     “Bro, pesen lagi dong, minta lemon tea ya” tiba-tiba pelanggan yang sedari tadi di pojok bersama temannya menghampiri counter barista, “ok, segera, bro!” barista kembali sibuk menyiapkan pesanan. 

    “Lucu gak sih kalau di coffee shop pesennya teh?” tiba-tiba perempuan itu bertanya 

Barista menoleh, matanya sempat melihat wanita itu mencoba menahan tawa dengan menutup mulut dengan jemarinya. Manis. 

    “Hmm, kalau dipikir sih, lucu ya, tapi kan.. sebentar ya saya antar ini dulu” perempuan itu mengangguk mempersilakan. Barista segera kembali ke tempatnya semula setelah mengantarkan lemon tea itu. 

    “..sampai mana tadi? Hehe” Barista bertanya kikuk, takut perempuan ini tidak ingin diajak ngobrol lagi. 

    “Sampai tapi.” 

    “Oh iya, yah, meski pun ini coffee shop, tapi kan kadang mereka ke sini buat nemenin orang lain, atau nongkrong sama temennya, sementara mereka mungkin engga biasa minum kopi.” 

    “Hmm, iya juga..” 

    “Mbaknya sendiri juga bukan peminum kopi kan? Soalnya tadi pesan vanilla latte.” 

Tawa yang ditahan itu muncul lagi, “Iya” jawabnya. “Beberapa temenku bilang aku Cuma bisa minum kopi lucu-lucuan, sampaikan saja salam untuk espresso yang tidak akan pernah kuminum.” 

    “Kadang hidup juga memang seperti kopi sih mbak, kita ga bisa minum yang keras dan pahit seperti espresso terus, kadang butuh penyegaran dengan yang lucu seperti vanilla latte tadi.” 

    “Iya… kadang sesuatu yang sama dan terlalu sering juga engga bagus ya” perempuan itu agak tertunduk. 

Sebelum dia tiba di coffee shop ini, dia baru bertemu dengan tunangannya, yang sekarang sudah menjadi mantan tunangannya. Pernikahan yang didamba sekarang hanya sekedar angin lewat. Entah siapa yang salah, entah siapa yang lelah, tunangannya –mantan, marah. Dan pada akhirnya, pertunangan mereka dibatalkan sepihak, perempuan itu berusaha untuk tidak menangis. Dia pergi. 

Tidak jauh dari tempatnya itu, ada coffee shop yang letaknya agak tersembunyi, ramai dibicarakan di Instagram dan dia belum pernah ke sana. Dia rasa hari ini juga bukan waktu yang tepat untuk mampir. 

Tiba-tiba hujan deras, dia buru-buru mencari tempat berteduh, dan yang terdekat dari tempatnya berdiri adalah coffee shop itu. 



    “Mbak mau biskuit?” suara barista memecah lamunan perempuan itu, diletakannya setoples biskuit chocochip di hadapan perempuan itu, diambilnya satu “thanks” katanya. 

    “Saya boleh tanya sesuatu ga?” barista mengangguk menjawab pertanyaan perempuan itu, “ini coffee shop kamu sendiri?” 

    “Iya, engga sih, sebenarnya ini impian saya dan kakak saya, kami merasa bahwa barista itu keren, kopi itu juga keren, kami pengen bikin tempat yang bikin orang seneng dan ngerasa keren, dan jadilah coffee shop ini, haha, dangkal gak sih motivasinya?” perempuan itu menggeleng, “engga kok, lebih baik dari pada yang buat sesuatu tanpa motivasi” 

    “Kamu sadar gak sih, dari tadi saya pertama masuk ke sini, dua orang yang di sana kayanya dunia serasa milik berdua banget?” perempuan itu menunjuk pelanggan lain di pojok coffee shop itu. Mungkin mereka pacaran, atau bahkan sudah menikah, tapi benar ucap perempuan itu, barista pun bisa melihatnya, kedua orang itu terlihat bahagia, saling menggenggam tangan di atas meja, sesekali tertawa saat mengobrol. 

    “Kayanya mimpi kamu dan kakak kamu terwujud kalau lihat mereka.” Lanjut perempuan itu lagi. Barista tersenyum, “sepertinya iya.” 

Perempuan itu sedikit iri melihat pasangan di pojok itu, tetapi dia sekarang merasa lebih tenang, pertunangannya adalah perjodohan yang direncanakan orang tua masing-masing, dia sama sekali tidak mengenal tunangannya dengan baik, begitu pun sebaliknya. Sepertinya keputusan untuk menghentikan pertunangan ini benar adanya. Dia meminum lagi vanilla lattenya yang mulai mendingin. 

Hujan mulai mereda, seorang pria tinggi dan sedikit gemuk masuk ke coffee shop ini. 

     “Wah hujan bikin sepi ye” ucapnya, “Iya nih bang, mana baru buka lagi ya.” balas barista itu ke kakaknya. 

    “Ya udahlah, santai” tukas si abang. “eh tolong ambilin tas di rak belakang dong” pintanya 

    “Siap, bentar ya” barista menghilang dari balik rak, memberikan tas pada kakaknya, dan menyadari bahwa perempuan itu sudah tidak ada di tempatnya, “Bang, liat cewe yang di sini tadi gak?” tanyanya 

    “Oh, udah balik, barusan dia pamit pas lo ke belakang” 

    “Oh…” barista melihat meja di depannya, hanya tersisa sebuah cangkir dengan isi tinggal setengah, ada beberapa lembar uang diselipkan di bawah piring kecilnya. 

Barista menghembuskan nafas pelan. Memandangi pintu dan lantai coffee shopnya dengan jejak basah di sekitarnya. 



2 bulan kemudian 

Barista itu sedang ada di kampusnya berkuliah dulu, mampir hanya untuk ke atm. Begitu akan masuk ke atm, dia berpapasan dengan sosok yang pernah dia lihat. 

Perempuan di coffee shop itu! 

    “Mbak?” tanyanya, yang dipanggil menoleh, “Ya?” perempuan itu memastikan siapa yang memanggilnya itu. 

    “Ah ini.. saya yang di Caffeine waktu itu.” Jelas barista 

    “Ohh! Iya, inget, hai apa kabar?” sahut perempuan itu 

    “Baik mbak, hehe, mbaknya kuliah di sini?” 

    “Oh engga, saya ngajar, saya dosen di fakultas bisnisnya.” 

    “Wah engga sangka ya waktu itu saya ngobrol sama dosen muda. Dulu jaman masih kuliah di sini engga ada dosen secantik mbaknya sih, hehe.” 

    “Haha, waktu itu belum resmi jadi dosen, baru ngajar dari bulan lalu kok.” 

    “Oh.. selamat ya mbak!” 

    “Iya, thanks, ya..” perempuan itu tersenyum 

    “Ngomong-ngomong, kita belum kenalan…” barista mengulurkan tangannya, perempuan itu tertawa dengan menutup mulutnya dengan jemari lagi. 

    “Haha, iya yah, kita ga pernah kenalan.” Dia menyambut uluran tangan barista itu. 

    “Nama saya…” 


***

Ditta Amelia Sarasvati,
Mei 2017.

5 comments:

  1. "Kadang sesuatu yang sama dan terlalu sering itu nggak bagus"
    Suka sama kalimat ini :)

    ReplyDelete
  2. Baguus ceritanya. Dan endingnya suka. Hohooho. Tapi kadang agak bingung pas bagian dialog siapa yang ngomong ke siapa. Hehehe. \:p/

    ReplyDelete
  3. Ka.. mau beli buku hellogoodbye dimana ya ?

    ReplyDelete