#

24 jam vakansi - Yogyakarta


Apa yang akan kamu lakukan saat lelah dengan semua aktivitas harianmu?

Liburan.

Tentu.

Tapi apa yang akan kamu lakukan jika kamu hanya punya waktu 24 jam untuk berlibur?

Dan ini yang baru saja saya lakukan...

Saya bekerja di sebuah kantor selama 8 jam perhari, tentu saja saya menikmati itu. Lingkup kerja yang kondusif dan produktif, rekan kerja yang menyenangkan. Bisa terlihat dari konten instagram story saya jika kamu sering lihat di bagian highlight 'Daily Office'. Hati-hati iri.

Namun sejak beberapa bulan kebelakang, aktivitas saya cukup padat. Bahkan weekend harus bepergian ke luar kota. Ada juga beberapa pekerjaan freelance yang saya harus selesaikan. Apa saya lelah? Secara fisik iya, tapi rasanya mau mengeluh engga pantas. Saya dapat banyak hal positif dan menyenangkan dari pekerjaan dan pilihan saya ini. 

Sampai pada minggu lalu, saya secara impulsif, melakukan rencana liburan selama 24 jam saja. 

Saya langsung mencari tiket pesawat ke suatu kota, Yogyakarta.

Entah apa yang mengamini niat impulsif ini, saya dapat tiket murah, hotel murah, teman yang akan bantu menemani niat ini, dan juga ijin dari kantor. 

Semua persiapan sudah aman!

Tanggal 7 Agustus, hari keberangkatan.

Tidak mungkin tidak ada drama jika saya bepergian ke suatu tempat, kali ini diawali dengan saya yang ceroboh lupa cek ulang jadwal pesawat, dan lokasi bandaranya. Yang saya kira di Bandara Soekarno Hatta ternyata pesawat saya berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Baik.

Pesawat saya ternyata boarding jam 6:20, saya jam 5 baru berangkat dari kantor.

Jam 6:12 saya masih di jalan baru saja berhasil melewati macetnya ibukota.

Tebak, siapa yang akhirnya di tengah perjalanan ke Halim, harus putar arah untuk ke Soekarno Hatta mengejar pesawat selanjutnya?

Tentu saja si bodoh ini.

Di tengah perjalanan, buru-buru mencari tiket pesawat untuk penerbangan selanjutnya. Untunglah saya masih dapat satu tiket dengan keberangkatan jam 9:50 malam. Sekitar jam 7 saya sudah sampai di Soekarno Hatta. Segera mencetak tiket, dan menunggu di salah satu coffee shop di bandara, yang menghasilkan postingan blog sebelum ini.


Hampir jam 11 malam saya akhirnya tiba di Yogyakarta, dan hal yang pertama saya cari adalah, angkringan dan wedang ronde.

Dua hal tersebut ditemukan di daerah Mangkubumi. Suasananya hangat, sayangnya ada banyak kendaraan bermotor lewat, ya iyalah, jalanan. Maksudnya, banyak banget! Jadi kalau ngobrol hal penting, tau-tau lewat motor banyak. Ternyata hari itu sepertinya baru saja ada konvoi.


Ada cerita lucu dari pencarian wedang ronde yang saya lakukan, jadi saya makan di salah satu resto di hotel Jakarta, ada menu wedang ronde seharga 40 ribu rupiah. Yang jadi masalah adalah, cuma ada 4 butir rondenya :( kan aku sebel. Tapi enak banget sih. Lalu saya balas dendam dengan beli wedang ronde langsung dari Yogyakarta. Huh!



Jam 3 subuh saya tiba di hotel setelah semua pencarian selesai, menginap di wilayah Seturan menjadi pilihan. Bangun pagi dengan perasaan 'wah engga ngantor ya?' dan kenyataan bahwa sedang berada di luar kota.

Ditambah saya makan nasi kuning enak banget untuk sarapan!

Saya selalu percaya bahwa makanan enak akan membuat mood baik. Terima kasih nasi kuning Banjar!


Hari itu masih tanpa rencana, maksudnya, saya betulan engga tahu harus ke mana, melakukan apa.

Ya, namanya juga impulsif.

Setelah check out hotel, saya diajak pergi ke sebuah toko buku indie bernama Gerak Budaya Jogja oleh kak Bara, salah satu teman menulis. Jadi toko buku ini berfokus berjualan buku impor dengan harga yang sangat terjangkau dibanding kamu membeli ke toko buku impor yang biasa ada di mall. Kalau kamu mampir ke Yogyakarta, kamu bisa coba mampir ke sini, alamatnya ada di Jl. Gondang Raya No.8, Kentungan, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman.



Saya membeli tiga buku yang mungkin akan saya review kalau memang sempat :)) ya kan wacana dulu. Biasa.

Coffee shop bernama Culture Head jadi persinggahan selanjutnya untuk kami mengobrol selayaknya sahabat akrab. Halah.



Mau tahu hal lucu di antara saya dan Kak Bara?

Jadi kami ini sama-sama berzodiak cancer, kadang saat ngobrol, ada hal-hal yang hanya kaum kami ketahui, lalu berakhir dengan tertawa dan bilang "dasar cancer!".

Buku kami juga diterbitkan oleh penerbit yang sama, Noura Publishing, punya saya tentu 'Hello Goodbye' dan punya Kak Bara adalah 'Luka Dalam Bara'. Juga punya editor yang sama, Kak Teguh Afandi. Maka dari itu kami berfoto saling bertukar karya. Sebagai tribute untuk editor kami. Oh, tunggu Hello Goodbye terbit ya! Dan beli juga Luka Dalam Bara #shamelesspromotion



Kalau kamu langsung menyangka saya dan Kak Bara ada love interest, ish, gosip mulu. Enggak! Semua aja yang saya kenal dianggap ada apa-apa. Kalian ini...

Saya lalu ditanya apalagi yang mau saya lakukan setelah ini, lagi-lagi impulsif, ice cream, atau lebih tepatnya di sini menjadi gelato karena ada tempat gelato yang cukup terkenal di dekat coffee shop ini. Gelato kiwi dan lemon grassnya saya suka banget. Tapi engga direkomendasikan untuk yang tidak suka rasa asam ya.



Tunggu sebentar, dari semua yang saya datangi, enggak ada yang bertema wisata bagai turis, tentu saja, saya bukan anak sekolah sedang study tour datang kemari.

Hanya mencari hal baru, melakukan kegiatan yang sama di tempat yang berbeda dengan orang yang jarang saya temui, dengan pembicaraan yang hanya diketahui oleh kami dan dinding atau kursi besi dingin di pinggir trotoar. Setidaknya dalam sehari saya tidak perlu memikirkan pekerjaan, atau beberapa tanggung jawab di ibukota. Rasanya tombol F5 di kepala ditekan berkali-kali, refresh.

Yogyakarta dalam 24 jam ini, menyenangkan! Seru! Mungkin nanti akan saya coba 24 jam vakansi di kota lain. Tapi jangan sering-sering, nanti bangkrut.

Saya bersiap kembali lagi ke Jakarta. Banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang harus segera dihadapi kembali.

Liburannya sudah selesai.

Tapi hal menyenangkan lainnya, masih bisa dicari lagi kan?

--------------------------------------------------------

8 Agustus 2018

Ditta Amelia Saraswati,
di gerai donat menumpang wifi untuk menyelesaikan tulisan ini.

6 comments:

  1. Tempat di Jogja sebenarnya gak cuma buat study tour pelajar dan tempat-tempat "semi Jakarta" karena tempat-tempat itu jelas buat tourist, hehe. Sebenarnya banyak tempat yang tidak dikenal di Jogja tapi bagus (yang pasti bukan burjo, di Jakarta Warkop legendaris juga banyak). BTW some recommend place : Cirebon, Surabaya, Malang-Batu, Semarang-Salatiga, Palembang, Medan, Padang, Pekanbaru, Makassar, Manado, Ambon, Singapore-Johor

    ReplyDelete
  2. Ya tapi kan bukan itu objective perjalanan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, aku tahu dit. Karena sebenarnya dengan tulisanmu, hal yang kurang populer pun malah bisa jauh lebih menarik. BTW aku juga pernah ketinggalan pesawat ke Jogja dan naik bus Bandung-Purwokerto-Yogyakarta. Hehe

      Delete
  3. Kak ,kapan bisa ke kota Batu ?

    ReplyDelete
  4. Apapun yg kamu goreskan selalu berakhir mengesankan

    ReplyDelete