#

Melawan Batas



Saya selalu merasa, bahwa sebetulnya kesulitan yang kita hadapi itu berasal dari batasan-batasan yang kita buat. Dulu saya merasa gambar saya jelek dan enggak bisa gambar, lalu berhenti menggambar. Pernah juga saya merasa bahwa saya penulis yang payah, bahkan hingga sekarang, lalu tidak pernah berani menunjukan karya saya.

Tapi kian hari, rasanya hal-hal itu malah membuat saya menjadi semakin payah, sama sekali enggak termotivasi. Maksud saya begini, saat saya berhenti menggambar, saya mempersulit diri saya sendiri dengan...
"ah belum ngerti cara pakai alatnya"
"enggak ngerti cara pakai softwarenya"
"kalau gambar manual susah!"

Lalu saya sadar, bukan alatnya yang salah, bukan softwarenya yang susah, tapi saya yang engga mau belajar. Saya terlalu cepat membuat batasan bahwa saya tidak akan mampu mempelajari semua itu.

Saya mencoba kembali belajar, melihat tutorial, bertanya pada teman yang sebidang interest, dan saya berhasil melawan batasan-batasan yang saya ciptakan sendiri... Mau coba saya ceritakan?

Ada sebuah cerita pembuka, sewaktu saya kecil, ada satu kejadian yang membuat saya tidak pernah bisa bertahan lama-lama di tempat gelap. Tidur harus dengan lampu menyala, setidaknya sebuah lampu tidur kecil dengan cahaya redup berwarna warm white harus ada.

Kisah lain, saya tidak pernah bisa meminum susu putih, dari mencium baunya saja saya dulu menangis, pernah ada waktu di mana saya hanya bisa meminum susu rasa coklat, selain itu terima kasih.

Tapi entah sejak kapan saya tidak lagi takut tidur dalam gelap. Pun sudah berhasil meminum susu putih yang biasa saya lewatkan.

Lalu saya mengingat lagi, di usia dua puluh empat ini sudah banyak hal yang saya berhasil lawan, dari yang saya tidak suka menjadi tidak apa. Salah satunya adalah bagaimana saya bangkit setelah berhenti menggambar, berhenti menulis beberapa tahun lalu.

Pernah ada masanya saya betul-betul ingin menjadi seorang desainer atau ilustrator sekitar di tahun pertama saya kuliah, hampir setiap hari saya membuat gambar, ilustrasi-ilustrasi kecil yang saya posting di sosmed, dan jika dibandingkan dengan gambar saya sekarang tentu saja jauh sekali, masih sangat jelek, tapi bagaimana saya di waktu itu sangat passionate terhadap ilustrasi. Hingga saya merasa bahwa apa yang saya lakukan sia-sia.

Saya menggambar untuk apa?
Untuk siapa?

Skill saya tidak juga berkembang, tidak ada yang memesan commission, apalagi menawarkan kerjasama.

Sedangkan di saat itu saya mulai membiayai diri saya sendiri, setidak-tidaknya tidak banyak meminta biaya kepada orang tua. Jika saya punya kebutuhan pribadi ya saya harus cari uang sendiri. Tapi di sisi lain, apa yang saya kerjakan tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan sekedar likes di sosial media pun tidak saya dapatkan.

Saya mulai membangun sebuah tembok besar, satu persatu dengan batu bata bernama pesimis.

Lalu mulai bermunculanlah pikiran-pikiran negatif lainnya, dan semua ini siapa yang ciptakan selain asumsi saya sendiri? Bisa dibilang teman-teman saya cukup suportif sesekali mereka menanyakan gambar-gambar saya, karakter yang saya buat, usaha yang pernah saya rintis.

Asumsi-asumsi itu pelan-pelan menganggu, bagaimana saya selalu terpikir saya ini payah, gambar saya jelek, saya tidak berbakat, dan lain-lain, hingga tiba di satu titik saya tidak bisa menggambar lagi.

Tidak banyak yang berubah dari sana, saya akhirnya tidak pernah mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan desain, sebutlah saya pernah menjadi customer service, social media officer, copywriter, pokoknya pekerjaan apapun yang tidak harus melibatkan gambar dan desain.

Tembok yang saya buat semakin tinggi.

Tidak banyak yang ingat bahwa saya adalah seorang desainer atau ilustrator saat itu. Saya berusaha mengganti hobi dengan memotret mainan, atau hal lainnya, yang pengerjaannya lebih mudah. Awalnya ini cukup membantu. Hingga ternyata membeli mainan terus menerus cukup mengkhawatirkan juga. Justru saat itu malah lebih banyak selfie dibanding karya di instagram saya. Sedikit ironis padahal saya melabeli diri sebagai desainer, haha.

Suatu malam saya membuka file-file kuliah saya, file-file gambar yang sembarang saya buat. Saya kangen menggambar. Tanpa sadar saya sudah berada dalam sebuah ruangan yang dikelilingi tembok yang selama ini saya buat. Sebuah pensil terjatuh di dekat kaki, ada tulisan bernama inspirasi di sana, saya mencoreti tembok-tembok itu satu demi satu.

Paragraf di atas hanya perumpamaan, tentu saja. Yang saya lakukan sebetulnya adalah, membuka software, menggambar lagi secara digital. Saat ada yang saya tidak pahami caranya, saya buka internet, saya cari tutorial. Kehabisan inspirasi? Saya menggambar orang-orang yang saya idolakan, film yang saya suka, mencari refrensi yang saya ingin gambar. Terus begitu setiap hari, hingga tembok-tembok di sekitar saya akhirnya runtuh. Hingga saya kini bisa membuat gambar yang bermacam-macam, dengan kualitas yang lebih baik sebelum saya hiatus.

Tidak ada lagi tembok. Kini semua tembok itu pun sudah saya gambari dengan berbagai macam pelajaran. Batasan itu tidak ada lagi, karena pembuatnya sudah pensiun. Dia sibuk membuat berbagai macam ilustrasi untuk buku, brand, dan kesenangannya sendiri.

Lain gambar, lain pula dengan menulis. Selama saya menulis, saya tidak pernah berani mempublikasikan tulisan fiksi saya di internet. Takut. Saya takut tidak ada yang baca, tidak ada yang suka, akan dikritik macam-macam oleh orang. Dan saat itu memang tulisan saya tidak memiliki pembaca lain selain diri saya sendiri.

Menulis itu untuk saya sangat menyenangkan, terkadang lebih menyenangkan dibanding saya menggambar, karena saya bisa menyampaikan sesuatu lebih banyak, lebih detail, bahkan saya bisa menjadi siapapun yang saya mau. Saya bisa satu hari menjadi laki-laki pemabuk, besoknya saya akan jadi anak perempuan berusia dua belas. Menulis memang semenyenangkan itu.

Tapi di sini masalahnya adalah, saya punya ketidakpercayaan diri yang cukup tinggi.

Saya takut tulisan saya tidak akan dibaca. Itu ketakutan yang paling utama. Masalah tulisan jelek, namanya juga belajar, lucunya sekarang saya saya malah jadi seorang editor linguistik. Semesta suka bercanda memang.

Hingga saya disadarkan oleh seorang teman setelah dia membaca draft cerpen-cerpen saya sekitar 4 tahun lalu. Dia bilang "Kalau lo takut enggak ada yang suka sama tulisan lo, gue siap jadi fans pertama tulisan-tulisan lo."

Ucapannya hingga kini masih membekas, karena ucapan itu juga yang membuat saya akhirnya memberanikan diri mencetak tulisan-tulisan saya secara indie beberapa tahun lalu, lahirlah buku Hello Goodbye yang pertama. Tanpa disangka ternyata banyak juga yang mau membeli buku itu, ditambah mereka bilang ada cerita-cerita yang mereka suka. Hingga Hello Goodbye mendapat kesempatan terbit mayor, ada di toko buku, hal yang sama sekali tidak berani saya impikan.

Sebelum merilis buku Hello Goodbye, saya masih terus menulis cerpen atau prosa, semua itu sebagai media di mana ada hal-hal yang tidak berhasil saya sampaikan secara verbal kepada seseorang atau siapa pun.

Menggambar kini menjadi terapi anti stress untuk saya, beberapa kali saya coba menggambar orang-orang di sosial media dan itu cukup menyenagkan. Begitu pun dengan menulis, dari yang dulu saya tidak berani menampilkan karya tulisan, sekarang tanpa ragu saya bagikan tulisan-tulisan saya di mana-mana.

Jika saya bisa bertemu saya di masa masih berada di balik tembok itu, ingin memeluknya lalu berkata bahwa dia mampu untuk menjadi lebih dari pada dirinya hari itu. Karena batas yang menghambatnya sebetulnya hanya dirinya sendiri.


---------------------------------------------------------


Ditta Amelia Saraswati,
16 Oktober 2019

4 comments:

  1. Inspiratif. Keep the good work 👍

    ReplyDelete
  2. Aku sangat mengagumimu,tulisanmu Dan segala karyamu, meskipun Kita Tak saling kenal. Kuharap Kita bisa bertemu suatu Hari nanti. Terimakasih telah menginspirasi ku.

    ReplyDelete
  3. Makasih kak,tulisan kakak kali ini entah kenapa hampir mirip dengan apa yang aku khawatirkan selama ini.Dan sekarang,aku mau meruntuhkan tembok-tembok itu sama seperti apa yang kakak lakukan dulu. :)

    ReplyDelete